Si Pengembara Malang
karya: Hanafi
Suatu hari, seorang laki-laki keras kepala mendatangiku
Ia mengaku telah lama mengarungi lautan asmara
Demi menemukan sebuah pelabuhan bernama Cinta Sejati.
Di hadapanku, ia curahkan seribu kisah kasih sedih gembira,
Ia bentangkan layar lebar petualangan penting itu–
Pertunjukan menakjubkan berisi potret tiap persinggahannya,
Mengesankan … sekaligus … membosankan.
Kemudian dengan santun aku bertanya:
“Wahai Tuan Pengembara, telah ditemukankah yang dicari ?
Sudah terpuaskankah hasrat manusiawi di lubuk hati ?
Sudah pahamkah Tuan akan hakekat Cinta Sejati ?”
Sang Pengembara menutup pertunjukkan dunia khayali itu.
Ia memberiku sebuah potretnya, menatapku tajam,
Dan dengan seulas senyuman, di telingaku ia berbisik lirih:
“Wahai yang juga dalam pencarian…
Cinta Sejati itu adalah cinta yang berbuat,
Cinta Sejati itu hanya sedikit berkata,
Cinta Sejati itu tiada pernah kehabisan untuk memberi,
Cinta Sejati itu tiada pernah meminta kembali,
Cinta Sejati itu muncul beserta pengorbanan diri,
Cinta Sejati itu hadir berbalutkan ketulusan hati,
Cinta Sejati itu berwarnakan pengabdian tiada henti,
Cinta Sejati itu bernafaskan ketakwaan kepada Al-Qawi,
Cinta Sejati itu bertamengkan kepercayaan melawan yang keji,
Cinta Sejati itu berbentengkan kesetiaan kokoh abadi,
Cinta Sejati itu bermesinkan kesabaran diri,
Cinta Sejati itu bersifat melindungi bukan mengekangi,
Cinta Sejati itu tahan disakiti tapi tiada ingin menyakiti,
Cinta Sejati itu melepaskan untuk memiliki,
Cinta Sejati itu berbuahkan pengertian bukan pemaksaan,
Cinta Sejati itu berakhir dalam kecanduan bukan kebosanan,
Cinta Sejati itu membuktikan bukan menjanjikan,
Cinta Sejati itu mengalirkan perhatian tiada tertahankan,
Cinta Sejati itu menerima kekecewaan tapi tiada mau mengecewakan,
Cinta Sejati itu memberi kesempatan hidup dan berkembang,
Cinta Sejati itu menilai dengan kebesaran jiwa bukan kepicikan,
Cinta Sejati itu memutuskan dengan kebijaksanaan bukan keegoisan,
Dan Cinta Sejati itu, barangkali, sempurna terwujudkan dalam istana pernikahan.
Wahai yang juga dalam perjalanan…
Telah kuhabiskan waktu ‘tuk mengejar bayangan kebahagiaan,
Sedangkan aku tahu kebahagiaan itu bersembunyi dalam hatiku.
Ku cari dan ku jelajahi daratan-daratan indah menawan,
Sedangkan aku paham itu hanyalah persinggahan.
Akhirnya, kesedihan pada setiap perpisahan dengan mereka;
Pedih, kecewa, dan luka saat bersama mereka, terukir berkali-kali di dada ini.
Kebahagiaan sementara ketika menemukan tanah impian itu,
Hanyalah kesenangan maya menemukan buah-buahan di tengah kelaparan;
Setiap buah yang ku telan melahirkan lagi rasa lapar.
Walau aku telah diberitahu Tuhanku Yang Maha Agung
Bahwa usaha pencarianku hanya akan sia-sia
Dan bahwa akhir pengembaraanku adalah Takdir-Nya,
Kekerasan hati membutakan mataku melihat petunjuk-Nya;
Ketidak sabaran mengantarku ke dalam neraka penyesalan;
Dan ketidak patuhanku ditemani derita ketidak pastian berkepanjangan.
Kini aku telah berhenti mencari hakekat yang telah kupahami.
Walau aku pun terbakar oleh api kebijakanku sendiri,
Tapi aku bukan tamu yang tak tahu berterimakasih
Aku tak ingin menekurkan wajah-wajah gembira para pribumi itu
Dengan membangkitkan tangis pilu melepas pesona sang tamu terhormatnya.
Biarlah daratan ini menjadi persinggahan terakhirku
Karna aku pun telah menanam sebatang pohon harapan di tanah ini
Dan menunggu masa untuk memetik buah kasih abadi yang ku impi.
Namun bila prahara teka-teki Penguasa Alam memusnahkan harapan terakhirku
Dan bila ini juga ternyata bukan pelabuhan itu…, aku akan pulang,
Dan mengakhiri perjalanan panjang melelahkan tanpa hasil ini.
Alangkah baiknya bila ku perbaiki dan ku perindah pelabuhanku sendiri,
Karna aku percaya akan keadilan Sang Pencipta;
Keinsyafanku ‘tuk berangkat menuju dunia kebijaksanaan
Dan mengobati luka kedunguanku dengan ramuan introspeksi
Takkan dicampakkan Tuhanku ke dalam lemari besi ‘tidak peduli’-Nya.
Ia akan pertemukan aku dengan cinta sejatiku, sama baik atau buruknya denganku,
Suatu hari nanti….
Wahai yang masih berada dalam lingkaran kebingungan…
Ketidakadilan yang kau lempar jauh ke jurang kegelapan tak berujung,
Bagi Tuhanmu, bagaikan sebuah meteor jatuh menyala terang di malam kelam
Yang tiada pernah lupa Ia kembalikan dengan panah api Keadilan-Nya.
Benih Kesabaran yang kau tebar di ladang suburmu,
Suatu saat, akan tumbuh menjadi pohon pelindungmu dari serangan kepanasan
Karna panah api Keadilan Tuhanmu itu pun melebur menjadi pupuk Kasih Sayang.
Semoga perihnya sayatan pedang kebijaksanaanku dapat mengajarimu sesuatu.
Semoga kebodohanku tidak menimpa hari-hari mujurmu.
Semoga kekerasan hatiku tidak mengalir dalam darahmu.
Dan semoga bisa kau petik buah manis petualangan cintaku.”
Kemudian, si Pengembara Malang itu pun berlalu dari hadapanku.
Aku pun tercenung dan bersyukur kepada Rab-ku,
Betapa dalam hikmah yang Ia tunjukkan kepadaku.
Cinta memang sebuah rahasia besar Sang Maha Kuasa.
Cinta memang datang tanpa diminta, lewat dari pintu ‘tak terduga’.
Cinta sungguh sering hilang tanpa berita melalui jendela ‘tiba-tiba’.
Keanehan dan kerumitan cinta masih tetap misteri terindah-Nya.
Cinta harus hadir diiringi sahabat-sahabatnya;
Teman setia yang menghibur di kala duka
Sekaligus lawan abadi yang menyerang di suasana gembira.
Cinta memang tiada bisa hidup sendirian;
Tanpa kawan, ia merana dalam hantaman kehampaan,
Bersama mereka pun, ia tertekan dalam damainya keriaan.
Berapa banyak definisi cinta tercipta,
Dan tak terhitung pujangga menyusun kalimat untuknya,
Namun, adakah hakekat cinta itu di lidah manusia ?
Cinta yang murni itu turun dari haribaan Ilahi
Mewarnai kehambaran hidup para hamba-Nya di dunia,
Tidak peduli apakah mereka hamba setia atau durhaka-Nya.
Yang setia memeliharanya baik-baik dalam lembar rahasia hati
Memancarkan kehangatan cinta itu diam-diam dari sikap dan sorot matanya;
Ia paham, tak ada kepastian cinta di luar mahligai rumah tangga.
Yang durhaka menghadiahkan cinta itu pada kerakusan nafsunya
Tunggang langgang ia terhempas diterjang tangan-tangan kekecewaan;
Semoga suatu masa keinsyafan serupa menghinggapinya.
Dan ku teringat kembali nasib si Pengembara Malang,
Ku doakan ia menemukan pelabuhan Cinta Sejati-nya,
Ku doakan ia senantiasa teguh dalam pendirian dan keyakinannya
Dan ku doakan ia tetap tegar dalam kelembutan hatinya
Karna, yang ku tahu…
Lelaki yang baik memiliki kelembutan hati seorang wanita,
Dan wanita yang baik mempunyai keteguhan hati seorang pria.
Potret itu ! Aku belum melihat potret yang diberikannya.
Namun … alangkah kaget dan bingungnya aku, karna …
Itu adalah potret kekasihku … dan … aku ! ! !
Selasa, 09 Desember 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar